Sejarah Maritime Challenge

 

 

Sejarah Berdirinya Maritime Challenge

Sejarah awal terbentuknya Maritime Challenge tidak dapat terlepas dari segala prestasi dan perjuangan yang telah dilakukan oleh Tim Maritime Challenge 2002 yang merupakan gebrakan awal dalam tonggak sejarah kebangkitan kegiatan Bahari Nusantara di kalangan generasi muda bangsa Indonesia memasuki abad XXI ini. Ide awal pembentukan Maritime Challengeberawal dari 6 orang mahasiswa Teknik Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang baru saja selesai melakukan kerja praktek di sebuah galangan kapal kayu yang terletak di daerah Cinere, Jakarta, yaitu PT. Kakanoo (Kapal Kayu Nusantara). Keenam pelopor dari Maritime Challengeini kemudian menamakan diri mereka sebagai Tim Enam. Berbekal sedikit pengalaman dan ketrampilan pembuatan kapal kayu yang didapatkan selama kerja praktek di PT. Kakanoo, tim enam kemudian merumuskan rencana pembuatan sebuah kapal yang akan dipersembahkan untuk almamater tercinta ITS.

Pada mulanya tim enam merencanakan pembutan sebuah kapal ikan sepanjang 5,2 meter dengan desain kapal diambil dari desain pada buku FAO yang merupakan salah satu lembaga di PBB yang mengurusi pangan dunia. Desain ini dipilih karena gambar kerja dari desain ini sudah lengkap, tidak terlalu rumit, dan memenuhi standar internasional, serta dibuat berdasarkan studi dan survei panjang yang dilakukan oleh FAO untuk mengembangkan taraf hidup masyarakat pesisir. Pembuatan kapal ini pada awalnya bertujuan memberikan ketrampilan pembuatan kapal kayu pada mahasiswa Teknik Perkapalan FTK ITS, selain itu juga untuk membekali mahasiswa Jurusan Teknik Perkapalan FTK ITS dengan kegiatan pembuatan kapal serta sebagai sebuah kapal yang bisa berguna dalam mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang positif dan dapat menumbuhkan semangat cinta bahari pada mahasiswa Jurusan Teknik Perkapalan FTK ITS.

Seiring dengan berjalannya waktu, bermodalkan ide pembuatan kapal kayu dan sumber daya manusia yang mempunyai gambaran teknis kerja yang harus dilakukan serta berbekal sedikit keterampilan pembuatan kapal, maka kemudian tim enam berusaha merealisasikan kegiatan tersebut. Akhirnya ide ini dicoba ditawarkan dalam bentuk proposal kepada Dr. Daniel M. Rosyid yang pada saat itu berkedudukan sebagai Pembantu Rektor IV ITS pada saat itu. Dr. Daniel M. Rosyid yang sedang mengembangkan kapal kayu asli Indonesia dengan dibantu oleh Roger Michael Johnson, MA yang merupakan seorang ahli kapal kayu dan kelautan berkebangsaan Inggris yang menetap di Perancis sangat tertarik dengan ide ini dan kemudian mereka menawarkan pilihan bagi tim enam untuk membuat sebuah kapal yang lebih besar dan sekaligus ikut serta dalam kegiatan Atlantic Challenge yang pada pelaksanaannya meliputi kegiatan pembuatan kapal, lomba layar, dan lomba dayung dengan menggunakan sebuah replika kapal perang Perancis pada akhir abad 18 (tahun 1796). Tawaran yang sangat menarik ini kemudian didiskusikan oleh tim enam, dan akhirnya tim enam memutuskan untuk mengikuti event Atlantic Challenge dan membatalkan rencana pembuatan kapal 5,2 meter tersebut.

Kemudian melalui berbagai sumber tim enam berusaha mencari sebanyak-banyaknya informasi mengenai kegiatan Atlantic Challenge. Setelah informasi tentang kegiatan Atlantic Challenge terkumpul, kemudian mereka mendata ulang mengenai apa saja yang dibutuhkan agar ide awal tersebut dapat terealisasi sekaligus untuk dapat turut serta dalam kegiatan Atlantic Challenge. Setelah melakukan sosialisai kegiatan tersebut kepada seluruh mahasiswa Fakultas Teknologi Kelautan dan presentasi singkat mengenai kegiatan Atlantic Challenge melalui pengumuman di semua jurusan yang ada di Fakultas Teknologi Kelautan ITS, maka kemudian dilakukan perekrutan anggota baru untuk menjadi anggota Tim. Melalui serangkaian kegiatan seleksi, akhirnya terpilih 15 orang anggota Tim Atlantic Challenge ITS yang berasal dari FTK ITS. Tetapi kemudian tim ini masih dirasakan kurang, sehingga dilakukan kegiatan perekrutan tambahan lagi yang kali ini melibatkan mahasiwa dari Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS ITS), sehingga total keseluruhan anggota Tim adalah 20 orang. Setelah didapatkan jumlah anggota 20 orang, maka lengkaplah sudah keanggotaan mahasiswa yang dibutuhkan.

Kemudian Tim yang telah ada ini dinamakan Tim Atlantic Challengge ITS. Tim Atlantic Challenge ITS adalah nama awal dari cikal bakal nama Maritime Challengeyang ada saat ini. Tetapi nama Tim Atlantic Challengge ITS dirasakan kurang baik, maka tim ini kemudian menamakan dirinya Tim Maritime Challenge2002 yang pada perkembangannya menjadi 18 orang bagi cikal bakal pertumbuhan ITS Maritime Challenge. Pemberian nama Maritime Challengeini didasarkan pada pertimbangan bahwa bangsa Indonesia tidak terletak pada samudra Atlantik tetapi samudra Pasifik, dan kegiatan ini harus bercirikan Maritim karena keanggotaanya melibatkan mahasiswa FTK ITS dan PPNS ITS, dosen, serta tenaga ahli. Pada tahap perkembangannya muncullah ITS Maritim Challenge yang secara umum mengarahkan semua kegiatannya pada usaha pembangunan Indonesia yang berwawasan kelautan.

 

template JoomSpirit